Di Bawah Tanah Ada Tanah
Hari itu, Kamis sore, aku melanjutkan survei penelitian ku mengenai hipertensi.
Setelah dua hari sebelumnya aku menyurvei di lorong di samping rumahku, aku melanjutkan beberapa langkah ke kiri yang dinamai Gang Komering.
Pertama-tama aku mencari rumah Pak RT untuk meminta izin terlebih dahulu.. dengan berbekal peribahasa malu bertanya sesat di jalan, aku pun bertanya ke orang-orang terlebih dahulu. Hingga akhirnya aku sampai di rumah kecil di samping warung,rumah Pak RT.
Pak RT rupanya sedang tidak ada di rumah, aku hanya bertemu Bu RT, aku pun disambut dengan baik, Bu RT sangat senang sekali, Bu RT mengajak aku duduk di sebuah tempat, ehmm apa ya namanya, seperti pondokan atau bungalow lah bahasa kerennya, hehe..
Di situ aku duduk dan mulai mengeluarkan alat-alatku, pena, lembar kuesioner, stetoskop, tensimeter, dan timbangan. Seperti biasa, dalam sekejap aku dikerumunin, orang tua muda bercampur baur. Anak-anak kecil tertawa dan malu-malu sambil saling mendorong untuk berdiri di atas timbangan.
Sedang orang yang lebih tua mulai mendekatiku mendengarkan pemaparanku, dan mulai mengantri untuk pemeriksaan.
Saya pun banyak berbagi pengetahuan saya sebagai dokter kepada mereka. Banyak yang konsultasi, dan saya pun dengan senang hati membantu mereka..
Di sana saya belajar banyak hal, tentang kehidupan..
Rata-rata pekerjaan mereka adalah ibu rumah tangga, tukang cuci. Satu rumah terdiri dari beberapa kepala keluarga, tapi Subhanallah, dengan pekerjaan mereka yang penghasilannya jauh dari cukup ternyata masih bisa makan sehari-hari dan mencukupi kebutuhan anaknya yang masih sekolah.
Allah sungguh Maha Besar, ia membagikan rezeki kepada hambaNYA dengan pas.. ukuran ALLAH pasti pas.
Maka aku pun bersyukur kepada ALLAH, yang kehidupanku secara ekonomi berada di atas mereka.. ternyata di bawah tanah ada tanah.
Dan aku pun mengingat bahwa sebagian hartaku adalah hak mereka..
Setelah dua hari sebelumnya aku menyurvei di lorong di samping rumahku, aku melanjutkan beberapa langkah ke kiri yang dinamai Gang Komering.
Pertama-tama aku mencari rumah Pak RT untuk meminta izin terlebih dahulu.. dengan berbekal peribahasa malu bertanya sesat di jalan, aku pun bertanya ke orang-orang terlebih dahulu. Hingga akhirnya aku sampai di rumah kecil di samping warung,rumah Pak RT.
Pak RT rupanya sedang tidak ada di rumah, aku hanya bertemu Bu RT, aku pun disambut dengan baik, Bu RT sangat senang sekali, Bu RT mengajak aku duduk di sebuah tempat, ehmm apa ya namanya, seperti pondokan atau bungalow lah bahasa kerennya, hehe..
Di situ aku duduk dan mulai mengeluarkan alat-alatku, pena, lembar kuesioner, stetoskop, tensimeter, dan timbangan. Seperti biasa, dalam sekejap aku dikerumunin, orang tua muda bercampur baur. Anak-anak kecil tertawa dan malu-malu sambil saling mendorong untuk berdiri di atas timbangan.
Sedang orang yang lebih tua mulai mendekatiku mendengarkan pemaparanku, dan mulai mengantri untuk pemeriksaan.
Saya pun banyak berbagi pengetahuan saya sebagai dokter kepada mereka. Banyak yang konsultasi, dan saya pun dengan senang hati membantu mereka..
Di sana saya belajar banyak hal, tentang kehidupan..
Rata-rata pekerjaan mereka adalah ibu rumah tangga, tukang cuci. Satu rumah terdiri dari beberapa kepala keluarga, tapi Subhanallah, dengan pekerjaan mereka yang penghasilannya jauh dari cukup ternyata masih bisa makan sehari-hari dan mencukupi kebutuhan anaknya yang masih sekolah.
Allah sungguh Maha Besar, ia membagikan rezeki kepada hambaNYA dengan pas.. ukuran ALLAH pasti pas.
Maka aku pun bersyukur kepada ALLAH, yang kehidupanku secara ekonomi berada di atas mereka.. ternyata di bawah tanah ada tanah.
Dan aku pun mengingat bahwa sebagian hartaku adalah hak mereka..
Labels: tika's activity


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home