Thursday, February 25, 2016

Life Rhythm

Sore ini dapat "suntikan" dari grup WA pediatric muslim (isinya residen dan SpA muslim), berikut isinya:
---------------------------------
Coba baca siklus ini:

Jam 05 mulai ke RS swasta,
Jam 08.00 pulang utk sarapan dan ketemu kel
Jam 09.00 ke RS Pemerintah krn pns
Jam 12.30 ke RS swasta satunya smp 16.00
Jam 16.00 ke RS swasta satunya
Jam 18.00 sm rumah mandi, maghrib (di rumah)
Jam 18.30 praktek malam, jam 22 selesai....

Malam kdg2 ada cito konsulen. Kl masih muda ya hrs dateng ke RS, tindakan...

Nah....bahagia?
Apa yg dicari?

Ada anak minta anter, ga bisa
Ada istri ajak kondangan, mana mungkin?
Ada undangan ketua RT, ah wakil saja
Ada undangan yasinan, "Bilang ya dik, saya praktek"
Ada Allah swt ajak ke masjid, "Maaf Tuhan saya sedang nolong pasien...."

Mari kita evaluasi pelan2:
🌿Apakah di satu(ulangi SATU) RS sj buat dokter miskin? Ga cukup? Masak. Sejawat yg di puskesmas sj cukup kok

🌿Anak minta anter mungkin sunnah. Kl anak nggak bisa ngaji Qur'an dan ngerti Islam dan hukum2 syariat? Itu kewajiban siapa? Pembantu? Ustadz home visit? Come on....

🌿Kl istri ajak kondangan? Hak muslim dg muslim (ARTINYA WAJIB AIN) ada 5, salah satunya hadir jk diundang.

🌿evaluasi ini jg berlaku utk undangan p. RT dan undangan yasinan dll dr tetangga muslim, bahkan tetangga non muslim kita wajib datang

🌿Kl undangan Allah (adzan), SUDAH BERAPA PULUH TAHUN ANTUM GA BISA HADIR? Statusnya izin atau udzur syar'i?

🍀Praktek sore bukan udzur syar'i, tetapi cari tambahan aja, hukumnya tentu bukan wajib. Karena sesiang 08-16.00 sdh wajibnya tertunaikan. Firman Allah swt surah Mu'min [40]: 61, malam utk istirahat; di surah Ar-Rum [30]: 23 lbh explisit, mlm utk tidur, siang utk usaha mencari karuniaNya. Dan sebag mlm utk sholat serta dzikir, tidurnya sdkt, al QS Al-Furqon [25]: 64, Qof [50]: 40, Adz-Dzariyat [51]: 17, Ath-Thur [52]: 49, Az-Zumar [39]: 9, As-Sajdah [32]: 16, dll....

🍀 Kl kejatah jaga, yan cito UTK LIFE SAVING, tdk termasuk diskusi ini. Tp dg pengaturan yg baik, percaya teman dan junior, in syaAllah bisa mendatangi undangan Allah swt di masjid utk maghrib dan isya'.

❤Masak, dg berlindung "saya praktek" seumur-umur tdk bisa menunaikan sbg muslim yg kaffah...berkeluarga, tetangga, jamaah di masjid, menghadiri undangan bersosial....

Bahagiakah anda, ketika tidak bisa memenuhi ajakan Allah swt dan Rasul-Nya...

Mari set up ulang, sbg muslim/ah, belajar dari Islam yg kaffah, basicnya Al-Qur'an dan Hadits...

---------------------------------
Sebelum saya baca ini sebenernya jauh dulu saya udah bikin jadwal seandainya saya seorang dokter spesialis anak, sekaligus seorang anak, saudara, istri, dan ibu.. meski saya belum selesai sekolah ppds dan belum berkeluarga (it's me, think and plan about future 😅). Saya buat jadwal sedemikian rupa, sedapat2nya semuanya sesuai porsi.

Menjalani profesi dokter itu artinya kita punya dua sisi, untuk keluarga dan untuk pasien. Dan keduanya adalah prioritas, sesuai kondisi dan kemampuan. Akan baik apabila semuanya sudah direncanakan dan sesuai porsinya, tapi ingat rencana itu gak kaku dan mengikat, fleksibel loh 😊
Meminjam kata2 bapakku (yg juga seorang dokter): sesibuk2nya kamu sebagai dokter, sediakan waktu untuk  hadir di dalam keluarga, semuanya bisa diatur, kamu sendiri yang menentukan.

Semoga saja keluarga2 dokter disana tetap solid dan bahagia, kebahagiaan itu tak hanya dicari tapi bisa juga diciptakan ☺.. doakan saya juga semoga nanti dapat membina keluarga dengan seseorang yg mengerti dengan profesi saya sebagai dokter spesialis anak nantinya 😇

Labels:

Saturday, December 5, 2015

Barokah

APA ITU "BAROKAH" ?

Barokah adalah kata yg diinginkan oleh hampir semua hamba yg beriman, karenanya orang akan mendapat limpahan kebaikan dalam hidup.

Barokah bukanlah cukup & mencukupi saja, tapi barokah ialah ketaatanmu kepada الله dg segala keadaan yg ada, baik berlimpah atau sebaliknya.

Barokah itu: "albarokatu tuziidukum fi tho'atillah~ barokah menambah taatmu kepada الله.

Hidup yg barokah bukan hanya sehat, tapi kadang-kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub عليه السلام, sakitnya menambah taatnya kepada الله.

Barokah itu tak selalu panjang umur, ada yg umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya orang2 sholeh

Tanah yg barokah itu bukan karena subur & panoramanya indah, karena tanah yg tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan الله tiada yg menandingi.

Makanan barokah itu bukan yg komposisi gizinya lengkap, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat
setelah makan.

Ilmu yg barokah itu bukan yg banyak riwayat & catatan kakinya, tapi yg barokah ialah yg mampu menjadikan seorang meneteskan keringat & darahnya dalam beramal & berjuang untuk agama الله.

Penghasilan barokah juga bukan gaji yg besar & bertambah, tapi sejauh mana dia boleh jadi jalan rizqi bagi yg lainnya & semakin banyak orang yg terbantu dgn penghasilan tersebut.

Anak² yg barokah bukanlah saat kecil mereka cantik & pandai atau setelah dewasa mereka berjaya bergelar & mempunyai pekerjaan & jabatan hebat, tapi anak yg barokah ialah yg senantiasa taat kepada RabbNya & kelak di antara mereka ada yg lebih sholeh maupun sholehah tak henti²nya mendo'akan kedua Orang tuanya.

Semoga hari ini menjadi barokah bagi semua😇🙏

(Repost)

Labels:

Tuesday, December 1, 2015

🍃🌺10 Sifat Wanita yang Mendatangkan Rezeki Bagi Suami 🌺🍃



Banyak suami yang mungkin  tidak tahu bahwa rezekinya dengan izin Allah mengalir lancar atas peran istri. Memang tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun bisa dijelaskan secara spiritual bahwa 10 sifat istri ini ‘membantu’ mendatangkan rezeki bagi suaminya.

1. Istri yang pandai bersyukur

Istri yang bersyukur atas segala karunia Allah pada hakikatnya dia sedang mengundang tambahan nikmat untuk suaminya. Termasuk rezeki.  Punya suami, bersyukur. Menjadi ibu, bersyukur. Anak-anak bisa mengaji, bersyukur. Suami memberikan nafkah, bersyukur. Suami memberikan hadiah, bersyukur. Suami mencintai setulus hati, bersyukur. Suami memberikan kenikmatan sebagai suami istri, bersyukur.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya adzabku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7)

2. Istri yang tawakal kepada Allah

Di saat seseorang bertawakkal kepada Allah, Allah akan mencukupi rezekinya.

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Thalaq: 3)

Jika seorang istri bertawakkal kepada Allah, sementara dia tidak bekerja, dari mana dia dicukupkan rezekinya. Allah akan mencukupkannya dari jalan lain, tidak selalu harus langsung diberikan kepada wanita tersebut. Bisa jadi Allah akan memberikan rezeki yang banyak kepada suaminya, lalu suami tersebut memberikan nafkah yang cukup kepada dirinya.

3. Istri yang baik agamanya

Rasulullah menjelaskan bahwa wanita dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya.

“Pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Beruntung itu beruntung di dunia dan di akhirat. Beruntung di dunia, salah satu aspeknya adalah dimudahkan mendapatkan rezeki yang halal.

Coba kita perhatikan, insya Allah tidak ada satu pun keluarga yang semua anggotanya taat kepada Allah kemudian mereka mati kelaparan atau nasibnya mengenaskan. Lalu bagaimana dengan seorang suami yang banyak bermaksiat kepada Allah tetapi rezekinya lancar? Bisa jadi Allah hendak memberikan rezeki kepada istri dan anak-anaknya melalui dirinya. Jadi berkat taqwa istrinya dan bayi atau anak kecilnya yang belum berdosa, Allah kemudian mempermudah rezekinya. Suami semacam itu sebenarnya berhutang pada istrinya.

4. Istri yang banyak beristighfar

Di antara keutamaan istighfar adalah mendatangkan rezeki. Hal itu bisa dilihat dalam Surat Nuh ayat 10 hingga 12. Bahwa dengan memperbanyak istighfar, Allah akan mengirimkan hujan dan memperbanyak harta.

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesunguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 10-12)

5. Istri yang gemar silaturahim

Istri yang gemar menyambung silaturahim, baik kepada orang tuanya, mertuanya, sanak familinya, dan saudari-saudari seaqidah, pada hakikatnya ia sedang membantu suaminya memperlancar rezeki. Sebab keutamaan silaturahim adalah dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

6. Istri yang suka bersedekah

Istri yang suka bersedekah, dia juga pada hakikatnya sedang melipatgandakan rezeki suaminya. Sebab salah satu keutamaan sedekah sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah, akan dilipatgandakan Allah hingga 700 kali lipat. Bahkan hingga kelipatan lain sesuai kehendak Allah.

Jika istri diberi nafkah oleh suaminya, lalu sebagiannya ia gunakan untuk sedekah, mungkin tidak langsung dibalas melaluinya. Namun bisa jadi dibalas melalui suaminya. Jadilah pekerjaan suaminya lancar, rezekinya berlimpah.

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

7. Istri yang bertaqwa

Orang yang bertaqwa akan mendapatkan jaminan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan ia akan mendapatkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah dalam surat Ath Talaq ayat 2 dan 3.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At Thalaq: 2-3)

8. Istri yang selalu mendoakan suaminya

Jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu, ia perlu mengetahui siapakah yang memilikinya. Ia tidak bisa mendapatkan sesuatu tersebut melainkan dari pemiliknya.

Begitulah rezeki. Rezeki sebenarnya adalah pemberian dari Allah Azza wa Jalla. Dialah yang Maha Pemberi rezeki. Maka jangan hanya mengandalkan usaha manusiawi namun perbanyaklah berdoa memohon kepadaNya. Doakan suami agar senantiasa mendapatkan limpahan rezeki dari Allah, dan yakinlah jika istri berdoa kepada Allah untuk suaminya pasti Allah akan mengabulkannya.

“DanTuhanmu berfirman: Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan” (QS. Ghafir: 60)

9. Istri yang gemar shalat dhuha

Shalat dhuha merupakan shalat sunnah yang luar biasa keutamaannya. Shalat dhuha dua raka’at setara dengan 360 sedekah untuk menggantikan hutang sedekah tiap persendian. Shalat dhuha empat rakaat, Allah akan menjamin rezekinya sepanjang hari.

“Di dalam tubuh manusia terdapat 360 sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan sedekahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah sedekah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah   Maka jika engkau tidak menemukannya (sedekah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

10. Istri yang taat dan melayani suaminya

Salah satu kewajiban istri kepada suami adalah mentaatinya. Sepanjang perintah suami tidak dalam rangka mendurhakai Allah dan RasulNya, istri wajib mentaatinya.

Apa hubungannya dengan rezeki? Ketika seorang istri taat kepada suaminya, maka hati suaminya pun tenang dan damai. Ketika hatinya damai, ia bisa berpikir lebih jernih dan kreatifitasnya muncul. Semangat kerjanya pun menggebu. Ibadah juga lebih tenang, rizki mengalir lancar..."

Semoga bermanfaat

📲 Grup WhatsApp MMC [Muslim Muslimah Cerdas]

💬 Share yuk mudah-mudahan teman anda mendapat faedah ilmu dari status yang anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi anda.. aamiin.

Labels:

Maha Samara Gita

Maha Samara Gita adalah singkatan dari Mahabbah, Sakinah, Mawaddah, Rahmah, Amanah, Ghayah, Ibadah, dan Tarbiyah, yang menjadi delapan unsur pengikat suami istri dalam kehidupan berumah tangga. Mahabbah Pernikahan dan hidup berumah tangga harus dilandasi oleh mahabbah atau cinta. Bukan sembarang cinta. Karena cinta utama setiap hamba adalah kepada Sang Pencipta. Manusia harus mencintai Allah di atas segalanya. Dialah sumber segala kehidupan, dariNya kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali. Ini adalah cinta dari segala cinta, mencintai Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Rahman dan Rahim. Kecintaan kepada Allah ini harus diikuti dengan cinta kepada Nabi mulia, Muhammad Saw. Nabi utusan Allah yang telah memberikan teladan paripurna dalam segala aspek kehidupan. Karena segala aturan Sang Maha Pencipta, dicontohkan pelaksanaannya oleh Nabi mulia Saw. Untuk itu setiap hamba yang bertaqwa harus bersedia mengikuti aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta, yang dicontohkan oleh Nabi-Nya. Nabi saw bersabda: “Menikah adalah sunnahku, maka barangsiapa tidak suka dengan sunnahku,  ia bukan termasuk golonganku” (Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Aisyah ra). Telah lengkap teladan dari Nabi Saw, termasuk dalam hal membina kehidupan rumah tangga. Inilah esensi mahabbah. Di atas landasan kecintaan kepada Allah dan Rasul, suami dan istri saling mencintai satu dengan yang lainnya. Cinta yang benar dan mulia, cinta yang proporsional. Mencintai suami, mencintai istri dalam rangka mencintai Allah. Itulah mahabbah. Sakinah Suami istri terikat oleh suasana sakinah yang muncul di antara mereka. Pernikahan telah menumbuhkan ketenteraman, ketenangan atau kedamaian. Sebuah suasana yang nyaman dan sejuk, yang hanya bisa didapatkan oleh orang yang sudah menikah secara sah. Rasa sakinah ini membuat suami dan istri selalu merasa nyaman dalam kebersamaan. Al Qur’an (Ar Rum : 21) menyatakan, berpasangan adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di muka bumi. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan, yang dengan menikah mereka dikarunia rasa cenderung, tenang dan tenteram. Sebuah perasaan yang tidak akan bisa didapatkan oleh pasangan yang tidak menikah secara sah. Keberadaan suami membuat isteri tenang dan tenteram, demikian pula keberadaan istri membuat suami tenang dan tenteram. Nabi Saw mengarahkan para pemuda yang sudah mampu untuk segera menikah, karena dengan menikah inilah berbagai gejolak syahwat bisa dikendalikan dan disalurkan secara benar. Dengan demikian jiwa menjadi tenang dan tenteram. Inilah ikatan sakinah, dimana suami dan istri saling memerlukan untuk memberikan dan mendapatkan ketenteraman dari pasangannya. “Wahai para pemuda, barangsiapa telah mampu di antara kalian hendaklah melaksanakan pernikahan, karena ia dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan (kehormatan). Barangsiapa tidak mampu hendaklah berpuasa, karena ia menjadi benteng perlindungan”  (Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i). Mawaddah Suami dan istri juga terikat oleh mawaddah, yaitu gairah cinta membara. Cinta yang menggebu-gebu dan berkobar-kobar kepada pasangan. Cinta ini bercorak sangat fisik. Interaksi dan kontak fisik yang sangat intim, yang hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Mawaddah adalah cinta yang tanpa batas dan tanpa jarak. Hanya bisa didapatkan oleh pasangan yang telah menikah secara sah. Mereka bisa saling menikmati tubuh pasangan sebagai sebuah fasilitas yang Allah berikan untuk bersenang-senang dan mendapatkan kebahagiaan. Tiada perasaan yang lebih kuat dibandingkan ketertarikan terhadap pasangan jenis, sebagaimana firmanNya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang” (QS. Ali Imran: 14). Nabi Saw bersabda: “Tidak ada yang bisa dilihat [lebih indah] oleh orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan” (Hadits Riwayat Al Hakim, disahihkan dengan syarat-syarat Muslim). Rata-rata gambaran mawaddah ini muncul pada pasangan muda. Ekspresi cinta mereka demikian menggelora, seakan tidak mau terpisahkan satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya jika menikah pada usia muda, akan lebih optimal dalam menikmati keindahan dan kebahagiaan bersama pasangan. Rahmah Suami istri terikat oleh rahmah, yaitu perasaan kasih sayang yang mendalam. Kasih sayang yang dewasa dan tidak lagi bercorak fisik. Bukan luapan rasa yang menggelora dan menggebu-gebu. Bahkan tampak seperti mengendap. Mereka sudah berada dalam kondisi kesejiwaan, bahkan tidak lagi mampu menyebutkan atas alasan apa mereka saling mencinta. Kasih sayang mereka demikian mendalam, tidak lagi terbatas pada romantisme kata-kata dan pelukan atau cium mesra. Dengan perasaan rahmah ini membuat suami istri bisa menikmati kebahagiaan dan kebersamaan hingga usia tua. Kontak fisik sudah tidak dominan, namun lebih dominan saling mengerti, saling memahami, saling menghormati dan saling memberi yang terbaik untuk pasangan. Puisi Sapardi Djoko Damono “Aku Ingin” berikut ini, bisa mewakili penjelasan rasa rahmah yang muncul pada pasangan suami istri. Gambaran cinta dan kasih sayang pada pasangan yang sudah lanjut usia. Mereka berbahagia menikmati kebersamaan hingga usia senja. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu   Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada   Dengan rahmah inilah pasangan suami istri tetap bisa berada dalam suasana bahagia sepanjang masa. Ini merupakan karunia Allah yang luar biasa indahnya dalam kehidupan keluarga. Mawaddah hanya bisa dinikmati secara optimal pada usia muda atau pengantin baru. Namun rahmah bisa dinikmati oleh siapa saja, pada usia berapa saja. Amanah Suami istri terikat oleh prinsip amanah yaitu tanggung jawab dan saling percaya. Hal ini karena ada mas’uliyah atau tanggung jawab yang melekat pada mereka berdua. Mas’uliyah menghajatkan sifat amanah. Ada peran dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh suami dan istri sejak mengucapkan ijab qabul. Mereka tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhadap pasangan, karena ikatan akad nikah adalah amanah yang harus dijaga dan dipertahankan. Istri adalah amanah bagi suami untuk dijaga dan dipenuhi haknya. Suami adalah amanah bagi istri untuk dijaga dan dipenuhi haknya. Dimensi penunaian amanah ini adalah dunia akhirat. Di dunia, apabila amanah tidak ternunaikan, akan menyebabkan kezaliman. Sementara itu Allah akan meminta pertangungjawaban atas penunaian amanah tersebut di akhirat kelak. Perasaan tanggung jawab ini menjadi ikatan yang kokoh agar suami dan istri tidak saling mengkhianati. Mereka akan berlaku sebaik-baiknya terhadap pasangan karena menyadari bahwa ada mas’uliyah yang harus mereka tunaikan dengan sepenuh amanah. Nabi Saw bersabda, “Kullukum ra-in wa kullukum mas-ulun ‘an ra-iyyatih”. Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Suami tidak boleh zalim terhadap istri dan anak-anak, demikian pula istri tidak boleh zalim terhadap suami dan anak-anak. Kezaliman akan melahirkan penderitaan serta kesengsaraan. Suami da istri harus menjaga amanah sebaik-baiknya, dan ditunaikan dengan sepenuh perasaan tanggung jawab. Ghayah Suami dan istri terikat oleh ghayah, yaitu tujuan-tujuan mulia dalam pernikahan dan berumah tangga. Menikah jangan sampai hanya karena accident, atau semata-mata karena memenuhi dorongan nafsu. Pernikahan adalah sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang utama baik bagi pribadi, keluarga, masyarakat, negara bahkan peradaban dunia. Pernikahan dan berumah tangga bukan hanya mendapatkan tujuan-tujuan sementara dalam kehidupan dunia, namun sekaligus tujuan untuk menggapai surga bersama kelak di akhirat. Ini merupakan ikatan yang bercorak ideologis, bahwa pernikahan bukanlah tujuan, tetapi merupakan sarana untuk mencapai tujuan mulia. Ikatan ini menuntut suami dan istri selalu melakukan usaha serius agar tujuan-tujuan tersebut bisa tercapai. Pada sebagian kalangan masyarakat kita, menikah itu seakan urusan pribadi semata-mata. Bahwa ada seorang lelaki dan seorang perempuan yang saling tertarik dan memutuskan untuk menikah. Padahal ada sangat banyak tujuan menikah dan berkeluarga, yang bukan hanya menyangkut urusan pribadi. Bahkan pernikahan itu menyangkut negara dan peradaban dunia. Hal ini sudah saya bahas dalam postingan terdahulu di Kompasiana, silakan lihat kembali di http://www.kompasiana.com/pakcah/tujuan-tujuan-mulia-menikah-dan-berkeluarga_552b76c86ea83402608b456d. Ibadah Menikah adalah bagian utuh dari ibadah. Bukan semata dorongan syahwat atau instink manusia dewasa. Menikah harus dilandasi dengan motivasi yang kuat, lurus dan benar, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Niat ini yang membedakan antara suatu pernikahan yang bernilai ibadah dan mendapatkan pahala dari setiap titik imteraksinya, dengan pernikahan yang semata-mata menjalani keinginan. Dalam kehidupan berumah tangga, suami istri harus saling menguatkan dalam ibadah. Mereka berusaha untuk menciptakan suasana ibadah dalam kehidupan keluarga. Bahkan semua titik interaksi antara suami istri dalam kehidupan sehari-hari harus bernilai dan bermuatan ibadah. Hidup berumah tangga bukan hanya untuk bersenang-senang dan melampiaskan segala hasrat sesaat secara halal. Namun suami istri harus mengokohkan ibadah dalam kehidupan keseharian. Nabi Saw bersabda,  “Apabila seorang hamba menikah maka telah sempurna separuh agamanya, maka takutlah kepada Allah untuk separuh sisanya” (Hadits Riwayat Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman). Nabi Saw juga mengarahkan suami dan istri agar saling menguatkan dalam ibadah. Salah satunya, beliau mendoakan ummatnya mendapatkan rahmat Allah dari aktivitas suami istri yang saling membangunkan shalat malam. “Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di waktu malam lalu shalat dan ia pun membangunkan istrinya lalu sang istri juga shalat. Bila istri tidak mau bangun, ia percikkan air ke wajahnya. Semoga Allah juga merahmati seorang perempuan yang bangun di waktu malam lalu ia shalat dan ia pun membangunkan suaminya. Bila suami enggan untuk bangun, ia pun memercikkan air ke wajahnya” (Hadits Riwayat An Nasa’i. Hadits senada juga diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi). Ini menandakan pentingnya menegakkan dan menjaga suasana ibadah dalam kehidupan rumah tangga. Tarbiyah Suami dan istri terikat oleh proses tarbiyah, yaitu saling memberikan pembinaan, pendidikan, pengingatan dan pengokohan dalam kebaikan. Pada dasarnya semua manusia memerlukan pendidikan, pembinaan dan pengingatan. Pendidikan yang paling fundamental harus terjadi dalam keluarga. Suami dan istri berkolaborasi untuk menguatkan suasana tarbiyah dalam kehidupan rumah tangga. Berbagai sarana bisa mereka hadirkan untuk menguatkan tarbiyah ini. Apalagi ketika mereka sudah menjadi orang tua dengan hadirnya anak-anak. Pada situasi itu semakin menguatkan urgensi tarbiyah dalam keluarga. Karena anak-anak adalah amanah yang harus dijaga dengan tarbiyah yang baik. Orang tua wajib mendidik, membina, mengingatkan, mengarahkan anak-anak agar selalu berada dalam keimanan, kebenaran dan kebaikan. Orang tua tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab tarbiyah kepada anak-anak mereka. Sebagaimana pelajaran penting yang kita dapatkan dari kisah Luqman yang diabadikan dalam Al Qur’an: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar" (QS. Luqman : 13). Luqman telah menjadi salah satu contoh orang tua yang memberikan pendidikan dan pembinaan kepada anak-anaknya agar menjadi manusia salih. Hal itu hanya bisa terjadi apabila suami dan istri berkolaborasi untuk menciptakan suasana tarbiyah di dalam rumah. Semua anggota keluarga harus mendapatkan pembinaan secara kontinyu di dalam rumah. Bukan hanya mengandalkan sekolah atau lembaga pendidikan formal saja, namun tarbiyah harus bermula dari rumah. Demikianlah delapan ikatan antara suami dan istri yang membuat kehidupan keluarga menjadi kokoh dan bahagia. Semoga kita bisa mendapatkan dan menjaga Maha Samara Gita dalam kehidupan keluarga.

Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/pakcah/maha-samara-gita-delapan-pengikat-suami-istri_5

Labels:

Wednesday, May 18, 2011

Menyerah

Aku menyerah

Berserah...

Totally surrender..

Kepada Sang Penggenggam Jiwaku

Aku berserah . . .

Lillahi ta'ala

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~18 Mei 2011 - t i k a ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Labels:

Sunday, February 6, 2011

aku (tak) mau jadi korban

Korban
Mengorbankan
Berkorban
Jika kita mendengar kata korban, kebanyakan yang ada di pikirannya adalah sesuatu yang susah a.k.a sulit, iya gak? Contohnya korban penculikan, korban pembunuhan, korban pencopetan, korban cinta, dll..
Tapi tak selamanya menjadi korban itu buruk..justru ada orang yang menjadi korban malah membuatnya semakin lebih baik..tidak ada yang mau menjadi korban keburukan, tapi ingatlah setiap kejadian adalah atas kehendak-Nya, itulah yang terbaik untuk kita, dan kita harus ikhlas.. so, jika kamu menjadi korban itu bukan berarti dunia telah berakhir, tapi justru dunia yang lebih indah menunggu di sana…
Mengorbankan.. ada 2 di sini, mengorbankan diri sendiri, atau mengorbankan orang lain..
Jika kita mengorbankan diri sendiri untuk yang lebih baik, kenapa tidak? Tapi jangan sampai mengorbankan orang lain untuk kepentingan kita semata.. remember, your life is not just about you!
Berkorban . . .
Teman saya berkata dalam cinta ada tahap di saat kita berkorban untuk orang dicinta, saya lupa, ada tahap-tahapannya, kalo gak salah yang pertama kagum, dan saya lupa seterusnya (ada yg bisa bantu gak?hehe)
Berkorban lebih kepada memberi tanpa mengharap kembali
Berkorban untuk melakukan hal yang menyenangkannya
Berkorban untuk tidak menyakitinya walaupun dengan melakukannya kita tahu dapat membuat kita senang
Sekarang saya merasa sebagai korban
Awalnya saya sedih
Kenapa saya bisa diperlakukan seperti itu
Kadang kita tak percaya apa yang telah terjadi
Setelah sekejap merenung, saya berpikir kenapa harus bersedih untuk sesuatu hal yang menjadikan kita tidak lebih baik
Saya yakin semua ini ada hikmahnya, dan melewatinya adalah kesempatan dan anugerah dari Allah swt supaya saya menjadi lebih kuat
Kini saya tersenyum, bahwa menjadi korban tak selamanya buruk
Here i am, with a cutest smile ^___^

Labels:

Friday, January 21, 2011

** Silang Pendapat **

Teringat salah satu obrolan antar teman saya: "ada yang bikin kita senang walaupun kita punya banyak masalah, membuat bahagia walaupun punya banyak tugas yang menumpuk atau ujian yang gagal, aku senang karena cowokku mau datang..!!"

Please deh..

Gimana pendapat kalian?
Itu artinya kebahagiaan seseorang diukur dengan ada tidaknya cowok..heeee, teori dari mana itu..terus yang ga punya cowok berarti ga bahagia gitu???

Pandangan tiap orang berbeda-beda, dan merupakan hak teman saya untuk berpendapat seperti, dan merupakan hak saya untuk memiliki pendapat yang berbeda juga..

Saya sama sekali tidak sependapat...cowok bukanlah segalanya..

hehe..peace ^^v

Labels:

Thursday, November 18, 2010

Bacalah! ^^

Halo semuanyaa..ehm, kali ini saya akan membahas mengenai artis artis yang kata orang wajahnya mirip saya..xixixixi..

1. Riyanni Djangkaru

Sebelum orang lain bilang saya mirip dengan mbak Riyanni, saya udah nge-fans dulu sama mbak Riyanni. Saya suka orangnya supel n luwes, apalagi membawakan acara favorit saya yaitu Jejak Petualang..saya suka membayangkan kalo saya adalah host di acara itu, hehe.. *beberapa hari kemudian: temen-temen saya bilang: "Tika ni mirip samo Riyanni Djangkaru ye..".....Supriseeee!!! Oh My God.. Setelah saya analisis, dari fisiknya saya emang mirip dengan dia, dalam hal:
  • Mata: mata nya agak sipit gitu deyhh...
  • Tertawa: Kalo lagi ketawa, bibir kami sama, bagian atasnya menipis dan terlihatlah gigi bagian atas, cobalah Anda perhatikan! :D
  • Bentuk pipi: rada mirip..
  • Warna kulit: warna kulit kami adalah warna eksotis Indonesia..hahaha...

2. Manohara Odelia Pinot
gambar tidak bisa diunggah, gak tau kenapa :(
Kejadian ini satu tahun yang lalu saat saya di stase forensik, dan lagi hot-hot nya kasus Manohara. Saya yang sedang bertugas menulis visum itu dipanggil Manohara oleh salah satu konsulen (dokter spesialis yang mengajar) selama satu bulan kepaniteraan saya di sana. Katanya saya mirip dia, cantik! (hoeeekkk :P).. Alhasil, karena saking seringnya saya dipamggil Manohara, mungkin dia ga tau nama asli saya siapa ...hihihi.. Setelah saya telusuri, memang ada sisi saya mirip Manohara, lagi-lagi masalah mata, dan senyumannya..haha..ada satu pose saya yang bener-bener mirip dia..hoho*maaf tidak dipublikasikan di sini..

*btw, masih ada 6 artis lagi yang mirip saya..tunggu kelanjutannya ya...hihi..kasih 1 bocoran ya: Park Shin Hyee

Labels:

Saturday, October 23, 2010

K.O.R.B.A.N

Tulisan ini ada di blog saya di wordpress dan sengaja saya republished di sini...^_^..let's chek this out!!
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Korban
Mengorbankan
Berkorban
Jika kita mendengar kata korban, kebanyakan yang ada di pikirannya adalah sesuatu yang susah a.k.a sulit, iya gak? Contohnya korban penculikan, korban pembunuhan, korban pencopetan, korban cinta, dll..
Tapi tak selamanya menjadi korban itu buruk..justru ada orang yang menjadi korban malah membuatnya semakin lebih baik..tidak ada yang mau menjadi korban keburukan, tapi ingatlah setiap kejadian adalah atas kehendak-Nya, itulah yang terbaik untuk kita, dan kita harus ikhlas.. so, jika kamu menjadi korban itu bukan berarti dunia telah berakhir, tapi justru dunia yang lebih indah menunggu di sana...
Mengorbankan.. ada 2 di sini, mengorbankan diri sendiri, atau mengorbankan orang lain..
Jika kita mengorbankan diri sendiri untuk yang lebih baik, kenapa tidak? Tapi jangan sampai mengorbankan orang lain untuk kepentingan kita semata.. remember, your life is not just about you!
Berkorban . . .
Teman saya berkata dalam cinta ada tahap di saat kita berkorban untuk orang dicinta, saya lupa, ada tahap-tahapannya, kalo gak salah yang pertama kagum, dan saya lupa seterusnya (ada yg bisa bantu gak?hehe)
Berkorban lebih kepada memberi tanpa mengharap kembali
Berkorban untuk melakukan hal yang menyenangkannya
Berkorban untuk tidak menyakitinya walaupun dengan melakukannya kita tahu dapat membuat kita senang
Sekarang saya merasa sebagai korban
Awalnya saya sedih
Kenapa saya bisa diperlakukan seperti itu
Kadang kita tak percaya apa yang telah terjadi
Setelah sekejap merenung, saya berpikir kenapa harus bersedih untuk sesuatu hal yang menjadikan kita tidak lebih baik
Saya yakin semua ini ada hikmahnya, dan melewatinya adalah kesempatan dan anugerah dari Allah swt supaya saya menjadi lebih kuat
Kini saya tersenyum, bahwa menjadi korban tak selamanya buruk
Here i am, with a cutest smile ^___^
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika membaca ulang tulisan saya, kadang saya tersenyum, kok bisa ya saya menulis seperti ini..pun ketika saya membaca diary saya yang lama-lama sewaktu SMP dulu..hhahaha..lucu n polos sekali..oleh karena itu, saya suka menulis, karena dengan menulis membantu saya menyelami siapa diri saya ini, karena untuk mengenal ALLAH maka saya harus mengenal diri saya sendiri ^_^

Labels:

Thursday, August 5, 2010

all is well

aku

dia

dirinya

Labels:

Friday, July 23, 2010

hiksssss...uh..

tidak suka

hari ini

hiks.

hiks.

hiks.

:'(

Labels: